Minggu, 09 Juni 2013

Ratufa indica


Tupai raksasa Oriental sangat besar [tentukan] tupai pohon dari genus Ratufa di Ratufinae subfamili. Mereka adalah elemen khas fauna Asia selatan dan tenggara.

Ada empat spesies hidup tupai raksasa oriental:

     Berwarna krem ​​tupai raksasa, Ratufa affinis
     Tupai hitam raksasa, Ratufa bicolor
     Tupai raksasa India, Ratufa indica
     Tupai raksasa beruban, Ratufa macroura

Pada zaman prasejarah keturunan ini lebih luas. Misalnya, hewan yang sangat mirip dengan Ratufa dan mungkin milik genus ini-setidaknya milik Ratufinae-adalah bagian dari Langhian awal (Miosen Tengah, beberapa 16-15200000 tahun yang lalu) Hambach fauna dari Jerman.


Indian Giant Squirrel
Ratufa indica
Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mammalia
Infraclass: Eutheria
Superorder: Euarchontoglires
Order: Rodentia
Suborder: Sciuromorpha
Family: Sciuridae
Subfamily: Ratufinae
Moore, 1959
Genus: Ratufa
Gray, 1867
Species
Ratufa affinis
Ratufa bicolor
Ratufa indica
Ratufa macroura
Synonyms
Eoscuirus, Rukaia



Golden Eagle (Aquila chrysaetos)

Elang emas (Aquila chrysaetos) adalah salah satu burung elang yang berada di Belahan Utara. Seperti semua elang, elang ini masuk kedalam famili Accipitridae. Elang ini menyebar di Amerika Utara, Eropa dan Asia. Burung ini memiliki panjang tubuh lebih dari 1 m. Pada kebudayaan populer, burung ini menjadi lambang nasional Mesir, Meksiko dan banyak negara lainnya.
Status konservasi
Risiko Rendah
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Falconiformes
Famili: Accipitridae
Genus: Aquila
Spesies: A. chrysaetos
Nama binomial
Aquila chrysaetos
Linnaeus, 1758

Steinadler Aquila chrysaetos closeup1 Richard Bartz.jpg 
Umumnya ditemukan di bagian barat dari Amerika Serikat (meskipun itu adalah penduduk biasa dari Timur), Golden Eagle adalah pemburu padang rumput terbuka lebar. Mereka juga ditemukan di sebagian besar Eropa dan Asia. Golden Eagles umumnya burung soliter , dan tidak sering ditemukan dalam kelompok besar yang Bald Eagles kadang-kadang ditemukan.
 
Habitat: negara Terbuka, termasuk padang rumput, lahan penggembalaan, gurun, atau tundra.

 
Diet: .. Terutama mamalia kecil Kadang-kadang akan mengambil lebih besar berdoa seperti rusa muda atau pronghorn Juga kadang-kadang akan memakan burung, ular, kadal, dan bangkai.

 
Perilaku: .. Akan mencari mangsa saat melonjak, sambil mengamati dari tempat, atau dengan menukik rendah di atas tanah Paris akan terkadang kooperatif Pasangan berburu juga dapat kawin seumur hidup.

 
Nesting: Maret sampai Juni

 
Breeding Peta: Pemuliaan burung peta survei

 
Song: Umumnya diam Sesekali menyalak sekitar sarang..

Golden Eagle - Aquila chrysaetos
 
Migrasi:. Burung di bagian utara jangkauan mereka (bagian utara Kanada, dan Alaska) bergerak ke selatan di musim gugur Banyak burung di AS barat merupakan penduduk permanen.

 
Spesies serupa: Bald Eagle (juvenil)

 
Status konservasi: Saat ini stabil, meskipun jumlahnya lebih rendah dari tingkat historis (terutama di Amerika Serikat Timur)

 
South Dakota "Hotspot": Mereka sangat sering ditemukan pada Pierre Padang Rumput Nasional Benteng, terutama di musim dingin dan migrasi.

 
Informasi lebih lanjut: 

1) USGS Patuxent Bird Identifikasi InfoCenter, Golden Eagle

2) Universitas Cornell "Semua Tentang Burung - Golden Eagle"

3) eNature.com: Golden Eagle

 
Informasi Foto: 1 Februari 2005 - Lyman di County dekat Lyman - Terry L. Sohl
Tambahan Foto: Klik pada chip gambar atau teks link di bawah untuk tambahan, resolusi tinggi Emas Foto Elang.
Golden Eagle - Aquila chrysaetos Distribusi elang emasHijau muda = tempat bersarang  Biru = tempat saat musim dingin  Hijau tua = distribusi satu tahun penuhDistribusi elang emas
Hijau muda = tempat bersarang
Biru = tempat saat musim dingin
Hijau tua = distribusi satu tahun penuh

Kamis, 07 Maret 2013

Etnobotani






Etnobotani (dari "etnologi" - kajian mengenai budaya, dan "botani" - kajian mengenai tumbuhan) adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan tumbuhan. Penelitian etnobotani diawali oleh para ahli botani yang memfokuskan tentang persepsi ekonomi dari suatu tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat lokal. Ahli etnobotani bertugas mendokumentasikan dan menjelaskankan hubungan kompleks antara budaya dan penggunaan tumbuhan dengan fokus utama pada bagaimana tumbuhan digunakan, dikelola, dan dipersepsikan pada berbagai lingkungan masyarakat, misalnya sebagai makanan, obat, praktik keagamaan, kosmetik, pewarna, tekstil, pakaian, konstruksi, alat, mata uang, sastra, ritual, serta kehidupan sosial.[2]


Kini ilmu etnobotani mengarah kepada sasaran untuk mengembangkan sistem pengetahuan masyarakat lokal terhadap tanaman obat sehingga dapat menemukan senyawa kimia baru yang berguna dalam pembuatan obat-obatan modern untuk menyembuhkan penyakit-penyakit berbahaya seperti kanker, AIDS dan jenis penyakit lainnya.[2]


Ilmu etnobotani akan sangat efektif apabila diterapkan pada masyarakat lokal.[3] Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan terhadap masyarakat setempat.[3] Para ahli etnobotani terlebih dahulu harus mengetahui nama-nama tumbuhan yang akan dipelajari, selain nama latin, mengetahui nama sebutan suatu tumbuhan di suatu daerah juga penting.[3] Setelah itu para ahli dapat mempelajari pemafaatan tumbuhan tersebut dalam bidang ekonomi tanpa mengabaikan faktor ekologisnya.[3] Setelah itu studi lanjutan dapat dilakukan dengan lebih spesifik dan terfokus dengan mengumpulkan sejumlah informasi lain.


Sejarah
1492: Colombus menemukan pemanfaatan tembakau (Nicotiana tabacum) di Cuba. Kolonisasi yang memiliki kepentingan ekonomi sekaligus eksplorasi keilmuan (1663-1870)
1873-1980: muncul ilmu etnobotani
1873: Power menulis buku tentang aboriginal botany
1895: Harsberger menulis tentang ethnobotany
1900: Davis Barrow muncul sebagai doktor etnobotani pertama ‘The Ethnobotany of the Coahuilla Indian of Southern California’
1920: Publikasi tanaman obat di India
1980: etnobotani dikenal oleh masyarakat akademis dan awam
1981: jurnal etnobotani. Pada dekade terakhir diterbitkan beberapa jurnal hasil penelitian etnobotani: Journal of Ethnobiology, Journal of Ethnopharmacology, Ethnobotany, Ethnoecology
1983: Perhimpunan Masyarakat Etnobotani yang diprakarsai oleh Perhimpunan Arkeologi Amerika


Di Indonesia


Pada abad ke-18, Rumphius telah membuat Herbarium Amboinense yang kemudian mengarah ke ekonomi botani.[2] Kemudian Hasskarl pada tahun 1845 telah mencatat penggunaan lebih dari 900 jenis tumbuhan Indonesia.[2] Tahun 1982 dibangun museum etnobotani di Balai Penelitian Botani-Puslit Biologi, LIPI.[2] Selanjutnya setiap tiga tahun sekali diadakan seminar atau lokakarya etnobotani, sampai akhirnya pada tahun 1998 tercapailah Masyarakat Etnobotani Indonesia.[2] Beberapa perguruan tinggi, seperti Institut Pertanian Bogor dan Universitas Indonesia, kini membangun program pascasarjana mengenai etnobotani.[2] Namun masalah yang timbul dewasa ini adalah kurangnya pendekatan partisipatif yang memungkinkan peneliti diterima di lingkungan masyarakat lokal untuk mengurangi hambatan kultural.[2]






Di Negara Lain


Di Afrika, pemerintah telah fokus pada pengetahuan tentang sistem pertanian tradisional masyarakat lokal untuk menunjang pembangunan pertanian bagi masyarakat pedesaan.[2] Sementara Australia juga fokus mempelajari cara-cara tradisional dalam pengelolaan tumbuhan dengan memperhatikan aspek ekologis.[2] Di Amerika, penelitian yang paling banyak dilakukan adalah penelitian mengenai etnobotani (sekitar 41%).[2] Di Asia, peneliti lebih memfokuskan untuk mendapatkan senyawa kimia baru untuk bahan obat-obatan.[2] Etnobotani juga mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama di beberapa negara seperti Amerika, India, China, Vietnam dan Malaysia.[2]


Persiapan


Sebelum tumbuhan dimanfaatkan, perlu diketahui terlebih dahulu informasi kegunaan tumbuhan tersebut.[4] Untuk mendapatkan informasi itu dapat dilakukan identifikasi dengan pembuatan herbarium dan membuat catatan lapangan.[4] Setelah pemanfaatan dilakukan tahap konservasi yang bertujuan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam yang telah digunakan.






Herbarium


adalah koleksi referensi suatu jenis tumbuhan yang dapat merepresentasikan morfologi tumbuhan yang meliputi batang, daun, bunga, dan buah.[4] Pembuatan herbarium dapat dilakukan dalam keadaan kering maupun basah.[4]


Langkah pembuatan herbarium di lapangan diawali dengan pemberian label, kemudian dibungkus koran dan dimasukkan plastik kedap udara, lalu ditambahkan alkohol 70%.[4] Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan herbarium di laboratorium yang diawali dengan penggantian koran.[4] Setelah itu dioven pada suhu 60 °C selama 2-7 hari, kemudian dimasukkan ke lemari pendingin -20 °C selama 1-2 minggu.[4] Setelah itu baru disusun dalam kertas herbarium yang berukuran sekitar 30X40cm, pemberian label, dan disimpan dalam Ruang Koleksi Herbarium.[4] Langkah ini kemudian diakhiri dengan identifikasi, yaitu pencocokan koleksi di Herbarium Nasional/internasional dan dibandingkan dengan spesimen tipe atau publikasi pertama, kemudian membuat referensi.[4]


Konservasi


Konservasi adalah pengelolaan/pemeliharaan kualitas lingkungan, sumberdaya dan keseimbangan antar komponen lingkungan di suatu kawasan dengan menerapkan prinsip keberlanjutan.[5] Konservasi mencakup aspek perlindungan, penelitian dan pemanfaatan secara lestari dalam tingkat ekosistem, jenis dan genetik.[5] Konservasi dapat dilakukan secara in situ maupun ex situ.[5]


Konservasi in situ dilakukan di dalam habitat aslinya, misalanya dengan pembuatan taman nasional dan hutan lindung.[6] Suku talang mamak dan Suku anak dalam memiliki kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam, mereka juga dapat dikatakan melaukan konservasi in situ.[6] Sedangkan konservasi ex situ merupakan komplemen dari konservasi in situ.[6] Konservasi ex situ dilakukan di luar habitat aslinya, misalnya dengan pembangunan kebun raya, kebun botani, atau taman hutan raya.[6] Di Indonesia terdapat beberapa kebun raya, baik yang sudah beroperasi maupun yang sedang dibangun, yaitu[5] :
Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Cibodas
Kebun Raya Purwodadi
Kebun Raya ‘Eka Karya’ Bali
Di Jawa: Kebun Raya Kuningan dan Kebun Raya Baturaden
Di Sumatra: Kebun raya Liwa, Jambi, Pulau Samosir, dan Batam
Di Kalimantan: Kebun Raya Sambas, Sanggau, Balikpapan, dan Katingan
Di Sulawesi: Kebun Raya Enrekang, Puca, dan Tomohon






Aplikasi etnobotani memiliki dua aspek penting, yaitu[5]:
Botani Ekonomi, yaitu aplikasi etnobotani untuk membantu mengembangkan perekonomoan suatu daerah dalam berbagai bidang, seperti bidang pertanian, seni, dan farmasi. Pada bidang pertanian dilakukan identifikasi manfaat jenis tumbuhan tertentu dan konservasi secara tradisional.[5] Di bidang seni dan kerajinan dilakukan pengembangan sumber pendapatan dengan membuat suatu kerjinan tertentu menggunakan tumbuhan yang terdapat di lingkungan sekitar. Sedangkan pada bidang farmasi dilakukan identifikasi fitokimia berdasarkan pengetahuan tradisional.[5]
Ekologi, yang meliputi pengelolaan dan pemanfaatan tumbuhan yang dilakukan secara lestari dan tidak merusak alam, serta praktik konservasi guna mempertahankan keanekaragaman hayati.[5]


Skala komersial


Pada skala komersial, informasi etnobotani dapat dimanfaatkan untuk industri, pestisida hayati, obat, pangan, dan pembuatan minuman.[5]


Kopi, teh, aren, dan lontar adalah contoh tanaman yang dapat dimanfaatkan dalam bidang industri, sedangkan Pohon neem (Azadirachta indica) dapat dimanfaatkan sebagai pestisida hayati.[5] Untuk obat dapat digunakan beberapa tumbuhan seperti nanas, lidah buaya, petai, pepaya, kunyit, dan asam jawa.[5] Untuk pangan dapat memanfaatkan tumbuhan seperti gandum, kentang, padi, jagung, ubi jalar, singkong, dan sagu.[5]













perbedaan reproduksi pada tanaman gymnospermae dan angiospermae


Rabu, 06 Maret 2013

TUMBUHAN BERBIJI TERBUKA (GYMNOSPERMAE)

GYMNOSPERMAE
A. PENGERTIAN
Tumbuhan dibagi menjadi dua, yaitu tumbuhan tak berpembuluh (non vaskuler) dan tumbuhan berpembuluh (vaskuler). Tumbuhan tak berpembuluh yaitu lumut, sedangkan tumbuhan berpembuluh terdiri atas tumbuhan tak berbiji, yaitu paku dan tumbuhan berbiji. Sedangkan tumbuhan berbiji sendiri dibagi dalam tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (angiospermae).




Tumbuhan berbiji ( Spermatophyta ) adalah tumbuhan yang mempunyai bagian yang di sebut biji. Pada dasarnya tumbuhan biji itu dicirikan dengan adanya bunga sehingga sering disebut dengan tumbuhan berbunga (Anthopyta). Biji dihasilkan oleh bunga setelah terjadi peristiwa penyerbukan dan pembuahan. Dengan kata lain, biji dapat dihasilkan merupakan alat pembiakan secara seksual (generatif). Selain itu, ada juga pembiakan secara aseksual (vegetatif).
Tumbuhan berbiji di kelompokkan menjadi dua anak divisi, yaitu tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae). Pada tumbuhan biji terbuka, biji tertutup dengan daging buah atau daun buah (karpelum). Misalnya, pada cemara, pinus, dan damar. Sementara itu, pada tumbuhan berbiji tertutup, biji di tutupi oleh daging buah atau daun buah. Misalnya, pada mangga, durian, dan jeruk. Dalam tumbuhan berbiji banyak sekali ordo ataupuun famili dari tiap divisi. Hal ini membuktikan bahwa tumbuhan berbiji merupakan tumbuhan yang dapat dikatakan tumbuhan yang memiliki bagian yang sangatlah banyak.
Gymnospermae adalah tumbuhan yang memiliki biji terbuka. Gymnospermae berasal dari bahasa Yunani, yaitu gymnos yang berarti telanjang dan sperma yang berarti biji, sehingga gymnospermae dapat diartikan sebagai tumbuhan berbiji terbuka.tumbuhan berbiji terbuka merupakan kelompok tumbuhan berbiji yang bijinya tidak terlindung dalam bakal buah (ovarium). Secara harfiah Gymnospermae berarti gym = telanjang dan spermae = tumbuhan yang menghasilkan biji. Pada tumbuhan berbunga (Angiospermae atau Magnoliphyta), biji atau bakal biji selalu terlindungi penuh oleh bakal buah sehingga tidak terlihat dari luar. Pada Gymnospermae, biji nampak (terekspos) langsung atau terletak di antara daun-daun penyusun  strobilus atau runjung.
Gymnospermae telah hidup di bumi sejak periode Devon (410-360 juta tahun yang lalu), sebelum era dinosaurus. Pada saat itu, Gymnospermae banyak diwakili oleh kelompok yang sekarang sudah punah dan kini menjadi batu bara : Pteridospermophyta (paku biji), Bennettophyta dan Cordaitophyta. Anggota-anggotanya yang lain dapat melanjutkan keturunannya hingga sekarang. Angiospermae yang ditemui sekarang dianggap sebagai penerus dari salah satu kelompok Gymnospermae purba yang telah punah (paku biji).
Gymnospermae berasal dari Progymnospermae melalui proses evolusi biji. Hal tersebut dapat dilihat dari bukti-bukti morfologi yang ada. Selanjutnya Progymnospermae dianggap sebagai nenek moyang dari tumbuhan biji. Progymnospermae mempunyai karakteristik yang merupakan bentuk antara Trimerophyta dan tumbuhan berbiji. Meskipun kelompok ini menghasilkan spora, tetapi juga menghasilkan pertumbuhan xylem dan floem sekunder seperti pada Gymnospermae. Progymnospermae juga sudah mempunyai kambium berpembuluh yang bifasial yang mampu menghasilkan xilem dan floem sekunder. Kambium berpembuluh merupakan ciri khas dari tumbuhan berbiji. Salah satu contoh Progymnospermae adalah tipe Aneurophyton yang hidup pada jaman Devon, sudah menunjukkan system percabangan tiga dimensi dengan stelenya yang bertipe protostele. Contoh lainnya adalah tipe Archaeopteris yang juga hidup di jaman Devon. Kelompok ini dianggap lebih maju karena sudah menunjukkan adanya system percabangan lateral yang memipih pada satu bidang dan sudah mempunyai struktur yang dianggap sebagai daun. Batangnya mempunyai stele yang bertipe eustele yang menunjukkan adanya kekerabatan dengan tumbuhan berbiji yang sekarang.
B. KLASIFIKASI
Gymnospermae terdiri dari beberapa divisi baik yang sudah punah maupun yang masih ada sampai sekarang, yaitu mencakup 3 divisi yang telah punah dan 4 divisi yang masih bertahan.
Tumbuhan Gymnospermae yang sudah punah
Tiga divisi yang sudah punah adalah:
Bennetophyta
Cordaitophyta
Pteridospermophyta, sudah punah namun dianggap sebagai moyang Angiospermae.
Divisi Cycadophyta, yang mempunyai daun menyerupai palem, agak menyerupai tumbuhan Cycas yang sekarang. Kelompok ini (Bennetitales) juga mengikuti garis evolusi yang sama seperti tumbuhan berbiji yang ada sampai sekarang. Namun terdapat perbedaan, yaitu sifat biseksualisme pada strobilusnya dan aspek lainnya. Kelompok yang menyerupai Cycas ini hidup pada jaman Jura dan Creta.
Tumbuhan Gymnospermae yang masih ada sampai sekarang
Empat divisi Gymnospermae yang masih bertahan adalah:
1)      Ginkgophyta
Hanya satu jenis yang masih bertahan: Ginkgo biloba
2)      Cycadophyta
Cycadophyta di bagi menjadi dua famili, yaitu Cycadaceae dan Zamiaceae.
3)      Coniferophyta atau dapat disubut Pinophyta
Merupakan tumbuhan runjung.
4)      Gnetophyta
Dengan anggota hanya 3 genus: Gnetum(melinjo dan kerabatnya), Welwitschia, dan Ephendra.

C. HABITAT
Gymnospermae hidup di mana-mana, hampir di seluruh permukaan bumi ini. Mulai dari daerah tropis hingga daerah kutub dan dari daerah yang cukup air hingga daerah kering.
Ginkgophyta
Banyak ditemukan di negara Cina, khususnya di daerah kecil di Zhejiang Cina dan di Mu Tian Shan. provinsi di Timur
Cycadophyta
Cycadophyta hidup di daerah tropis dan subtropis.
Coniferophyta atau dapat disubut Pinophyta
Tumbuhan yang termasuk Coniferophyta hidup tersebar di berbagai daerah, bahkan hampir di seluruh daerah di dunia.  Pohon pinus dan cemara banyak tumbuh di Eropa bagian pegunungan.
Gnetophyta
Banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropis.
D. CIRI-CIRI
Gymnospermae memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Bakal biji tidak terlindungi oleh daun buah.
2. Pada umumnya perdu atau pohon, tidak ada yang berupa herba. Batang dan akar berkambium sehingga dapat tumbuh membesar. Akar dan batang tersebut selalu mengadakan pertumbuhan menebal sekunder. Berkas pembuluh pengangkutan kolateral terbuka. Xilem pada gymnospermae hanya terdiri atas trakeid saja sedangkan floemnya tanpa sel-sel pengiring.
3. Mempunyai akar, batang, dan daun sejati.
4. Bentuk perakaran tunggang.
5. Daun sempit, tebal dan kaku.
6. Tulang daun tidak beraneka ragam.
7.  Tidak memiliki bunga sejati.
8. Alat kelamin terpisah, serbuk sari terdapat dalam strobilus jantan dan sel telur terdapat dalam strobilus betina.
9. Struktur perkembangbiakan yang khas adalah biji yang dihasilkan bunga ataupun runjung.   Setiap biji mengandung bakal tumbuhan , yaitu embrio yang terbentuk oleh suatu proses reproduksi seksual. Sesudah bertunas embrio ini tumbuh menjadi tumbuhan dewasa.
10. Sperma atau sel kelamin jantan menuju kesel telur atau sel kelamin betina melalui tabung serbuk sari hanya terdapat pada tumbuhan berbiji.
11. Tumbuhan biji mempunyai jaringan pembuluh yang rumit. Jaringan ini merupakan saluran menghantar untuk mengangkut air, mineral, makanan dan bahan – bahan lain.
12. Tumbuhan berbiji terbuka memiliki pigmen hijau (klorofil) yang penting untuk fotosintesis yaitu suatu proses dasar pembuatan makanan pada tumbuhan.
13. Gymnospermae memiliki batang yang tegak lurus dan bercabang-cabang. Daunnya jarang yang berdaun lebar, jarang yang bersifat majemuk, dan system pertulangan daunnya tidak banyak ragamnya. Hal ini sangat berbeda dengan karakteristik daun yang terdapat pada angiospermae yang sistem pertulangannya beraneka ragam.
E. REPRODUKSI
Organ reproduksi pada gymnospermae disebut konus atau strobilus. Tumbuhan berbiji terbuka tidak memiliki bunga, sporofil terpisah-pisah atau membentuk srobilus jantan dan betina. Makrosporofil dan makrosporangium yang tampak menempel pada strobilus betina. Letak makrosporofil dan mikrosporofil terpisah. Sel kelamin jantan berupa spermatozoid yang masih bergerak aktif. Di dalam strobilus jantan terdapat banyak anteridium yang mengandung sel-sel induk butir serbuk. Sel-sel tersebut bermeiosis dari setiap sel induk terbentuk 4 butir serbuk yang bersayap. Pada strobilus betina terdapat banyak arkegonium. Pada tiap-tiap arkegonium terdapat satu sel induk lembaga yang bermeiosis sehingga terbentuk 4 sel yang haploid. Tiga mati, dan satu sel hidup sebagai sel telur. Arkegonium ini bermuara pada satu ruang arkegonium.
Pada Gymnospermae sering terjadi poliembrioni, walaupun hanya ada satu embrio yang terus berkembang karena adanya pembelahan beberapa arkegonia. Air sudah tidak digunakan sebagai media fertilisasi karena adanya pembentukan buluh serbuk pada serbuk sari yang berkecambah.
Pada Coniferophyta dan Gnetophyta spermanya tidak mempunyai flagel, sehingga buluh serbuk menghantarkannya langsung ke mulut arkegonia. Serta pada Cycas dan Gingko fertilisasinya merupakan bentuk antara kondisi pada paku-pakuan dan tumbuhan tanpa biji lainnya, yaitu spermanya mampu berenang bebas dan bentuk pada tumbuhan berbiji yaitu spermanya tidak mampu bergerak bebas.
Gametofi jantan umumnya bersifat haustorial, yaitu menyerap makanan dari ovulum ketika tumbuh, walaupun dibutuhkan buluh serbuk tetapi tidak langsung masuk ke arkegonium. Buluh serbuk tersebut tumbuh dan menetap di dalam nuselus selama berbulan-bulan sebelum menuju gametofit betina. Setelah sampai di mulut gametofit betina, buluh serbuk robek dan melepaskan sel sperma yang berflagel banyak. Sperma tersebut kemudian menuju ke arkegonium dan membuahi telur. Dengan adanya buluh sperma tersebut maka tumbuhan berbiji tidak ada lagi yang bergantung pada ketersediaan air pada fertilisasinya.
Proses Penyerbukan dan Pembuahan
Penyerbukan yang terjadi pada tumbuhan berbiji terbuka selalu dengan cara anemogami (penyerbukan dengan bantuan angin). Serbuk sari jatuh langsung pada bakal biji. Selang waktu antara penyerbukan sampai pembuahan relatif panjang. Pembuahan yang terjadi pada gymnospermae disebut pembuahan tunggal (setiap inti generatif melebur dengan inti sel telur). Mikropil terdedah ke udara bebas. Pembuahan pada gymnospermae disebut pembuahan tunggal, karena tiap-tiap inti sperma membuahi satu sel telur.


Strobilus jantan Þ serbuk sari Þ jatuh pada tetes penyerbukan (ujung putik) Þ buluh serbuk Þ membelah Þ inti tabung dan inti spermatogen Þ inti spermatogen Þ membelah Þ dua inti sperma Þ membuahi sel telur di dalam ruang arkegonium Þ zigot Þ lembaga di dalam biji Þ tumbuhan baru.
siklus hidup pinus
siklus hidup pinus (gymnospermae)
F. IDENTIFIKASI
1. Ordo Cycadales, Divisi Cycadophyta
Ordo ini dicirikan dengan bentuk dan susunan daun yang mirip dengan pohon palem. Batang tidak bercabang, akar serabut, dan ujung daun mudanya menggulung seperti daun tumbuhan paku muda, termasuk dalam tumbuhan berumah dua. Alat kelamin jantan dan alat kelamin betina terdapat pada pohon yang berbeda. Pohon jantan mempunyai tongkol dengan kotak-kotak berisi serbuk sari. Pohon betina membentuk daun buah yang pipih yang pada lekukan tepi daun buah terdapat bakal biji.
Ordo ini beranggotakan sembilan genus yang masih hidup sampai sekarang dan meliputi sekitar 100 spesies. Meskipun tumbuhan ini tidak ditemukan dalam fosil diduga sudah muncul pada zaman trias sampai kapur awal. Tanda-tanda khas golongan ini adalah batang tidak bercabang, daun majemuk tersusun sebagai tajuk di pucak pohon. Cycadales baik ditemukan baik di wilayah tropic maupun subtropik, misalnya Zamia dan Cycas rumphii (pakis haji).

Adapun ciri – ciri umum dari ordo Cycadales adalah :
  1. Berupa pohon, seperti kelapa sawit dengan pertulangan daun sejajar. Batang tidak bercabang, daunnya majemuk, tersusun sebagai tajuk di puncak pohon.
  2. Berumah dua, artinya ada tanaman jantan yang menghasilkan strobilus jantan dan tanaman betina yang menghasilkan strobilus betina pada tanaman yang berbeda.
    Anggota ini menghasilkan strobilus yang besar. Meskipun demikian, rata – rata reproduksinya rendah. Dari 15 – 20 strobilus yang dihasilkan tumbuhan Cycas jantan, hanya satu atau dua saja yang siap melepaskan serbuk sarinya. Strobilus jantan ini menghasilkan aroma yang membuat serangga tertarik untuk datang. Setelah datang, serangga tersebut akan memakan strobilus dan berkembang biak. Pada saat yang sama, strobilus betina menghasilkan bau yang dapat mengusir serangga yang datang kepadanya. Setelah beberapa waktu, strobilus betina menghasilkan aroma yang justru menarik serangga yang berasal dari strobilus jantan. Sambil membawa mikrospora dari strobilus jantan, serangga tersebut menuju strobilus betina dan terjadilah polinasi.
  3. Daun berbagi menyirip, tersusun roset batang, daun muda menggulung.
  4. Mirip palma berkayu berbentuk pohon atau semak.
  5. Strobilus terminalis, uniseksualis, dioecious.
  6. Strobilus jantan mengandung banyak sekali mikrosporofil yang tersusun spiral dengan mikrosporangia pada permukaan bawah.
  7. Gamet jantan (spermatozoid) motil, di lingkungan air, penting untuk penyerbukan.
  8. Jumlah ovuli dua atau lebih pada tiap megasporofil.
  9. Megasporofil mirip bulu ayam, tersusun longgar di ujung batang atau tersusun rapat dan kompak.
strobilus betina
strobilus betina
Gambar strobilus betina
Gambar strobilus jantan
Contoh: Zamia furfuracea, Cycas revoluta dan Cycas rumphii (pakis haji)

PAKIS HAJI
Klasifikasi Pakis Haji
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Cycadophyta (sikas)
Kelas : Cycadopsida
Ordo : Cycadales
Familia : Cycadaceae
Genus : Cycas
Spesies : Cycas rumphii Miq
Pakis haji berbentuk seperti kelapa sawit dan sering digunakan untuk tanaman hias. Jenis ini dapat ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Pakis haji (aji) atau populer juga dengan nama sikas adalah sekelompok tumbuhan berbiji terbuka yang tergabung dalam marga pakis haji atau Cycas dan juga merupakan satu-satunya genus dalam suku Cycadaceae.
Pakis haji berhabitus mirip palem, namun sebenarnya sangat jauh kekerabatannya. Kemiripan ini berasal dari susunan anak daunnya yang tersusun berpasangan. Semua pakis haji berumah dua (dioecious) sehingga terdapat tumbuhan jantan dan betina. Serbuk sari dihasilkan oleh tumbuhan jantan darirunjung besar yang tumbuh dari ujung batang. Alat betina mirip daun dengan biji-biji tumbuh dari samping. Alat betina tumbuh dari sela-sela ketiak daun. Walaupun ia disebut “pakis”, dan daun mudanya juga mlungkerpakis sejati, pakis haji sama sekali bukan anggota tumbuhan berspora tersebut.
Akar beberapa jenis pakis haji dapat diinfeksi oleh sejenis Cyanobacteria, Anabaena cycadea, yang pada gilirannya menguntungkan kedua pihak ( simbiosis mutualistis). Akar yang terinfeksi akan membentuk semacam bintil-bintil yang berisi jasad renik tersebut. Beberapa pakis haji yang besar dapat dimakan bagian teras batangnya, karena mengandung pati.

2. Ordo Ginkgoales, Divisio Ginkgophyta
Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli dari daratan Cina. Tinggi pohon dapat mencapai 30 meter, daun berbentuk kipas mudah gugur. dan berumah dua. Berdasarkan bukti fosil ginkgo diperkirakan telah hidup sejak jaman jura (181 juta tahun yang lalu). Serbuk sari dan bakal biji dihasilkan oleh individu yang berlainan. Anggota kelompok ini hanya ada satu species yaitu Ginkgo biloba. Spesies ini tercatat sebagai spesies pohon tertua di dunia. Selama 80 tahun spesies ini belum pernah berubah.
Klasifikasi Ginkgo biloba
Kingdom : Plantae
Divisio : Ginkgophyta
Class : Ginkgoopsida
Ordo : Ginkgoales
Family : Ginkgoaceae
Genus : Ginkgo
Spesies : Ginkgo biloba
Ciri khas tanaman ini adalah
  1. Mempunyai daun yang berbentuk seperti kapas dengan lebar 5 sampai 10 sentimeter dan tinggi batang mencapai 30 meter. Selain itu, daunnya juga ada yang berbentuk mirip daun paku kelompok suplir.
  2. Ketika musim penyerbukan tiba, tanaman ini mengeluarkan bau yang kurang sedap dan dijauhi oleh manusia. Habitus pohon tinggi lebih dari 1000 kaki, daun berubah warna dan menggugurkan daunnya pada musim rontok.
  3. Tumbuhan berumah dua (diesis)
  4. Gamet jantan motil, penyerbukan di air.
  5. Daun muda menggulung, melebar bentuk kipas, daun terbagi dua simetris karena lekukan yang dalam, mengalami perkembangan.
  6. Strobilus jantan berbentuk kerucut; strobilus betina dngan 2 ovuli yang berbeda kematangannya; ovulum mempunyai pembungkus berdaging yang dapat berubah warna.
  7. Lembaga mempunyai 2 cotyledon.

Manfaat dan kegunaan Ginkgo biloba :
  1. Berfungsi sebagai antioksidan untuk menekan radikal bebas, untuk meremajakan sel-sel otak yaitu dengan cara memulihkan reseptor-reseptor di dalam otak serta meningkatkan serotonin.
  2. Mempunyai kemampuan untuk memperbaiki peredaran darah.
  3. Dapat memacu produksi molekul energi ATP (adenosine triphosphate).
  4. Peluang agribisnis tanaman ini adalah di manfaatkan sebagai peneduh atau sebagai tanaman hias. Selain itu, tanaman ini juga di percaya sebagai tanaman obat Bronkhitis dan asma sejak 5000 tahun lalu di Cina.
Daun Ginkgo biloba

Daun tumbuhan kelas ini banyak yang berbentuk jarum, oleh karena itu sering disebut sebagai pohon jarum. Tajuk pohon kebanyakan berbentuk kerucut (Conus = kerucut; Ferein = mendukung).

3. Ordo Coniferales, Divisio Coniferophyta
Coniferales artinya tumbuhan pembawa kerucut, karena alat reproduksi jantan atau betina berupa strobilus. Ada dua strobilus, yaitu strobilus biji atau strobilus betina dan strobilus jantan strobilus serbuk sari.
Seperti halnya tumbuhan gymnospermae yang lain. Meskipun Coniferales banyak ditemukan pada zaman sekarang, sebenarnya merupakan tumbuhan purba yang pernah hidup dominant pada zaman karbon atas ( 345 juta tahun lalu). Anggota Coniferales merupakan tumbuhan `evergreen` (selalu hijau ).
Adapun ciri umum ordo Coniferales adalah
  1. Tanaman berupa pohon, daun berbentuk jarum, serta ada yang berumah satu dan berumah dua.
  2. Pohon pinus dan cemara banyak hidup di Eropa bagian pegunungan. Di Eropa tanaman pinus dan cemara disebut evergreen, artinya daunnya tetap hijau sepanjang masa.
Ordo Coniferales memiliki 4 famili, yaitu:
  1. Familia Araucariaceae
Genus : Araucaria, Agathis
Ciri-ciri familia Araucariaceae:
1)      Evergreen trees, mengandung resin.
2)      Daun tersusun spiral atau 2 tingkat, kaku, serupa paku, linear atau ovatus, sering meruncing.
3)      Strobilus uniseksualis, terminalis atau aksilar.
Strobilus jantan dgn banyak mikrosporofil masing-masing dengan 4-19 mikrosporangia. Strobilus betina mirip gada atau bulat, dengan ovulum soliter dengan bagian memipih serupa sayap.
4)      Kecambah dengan 2-4 cotyledon.

Contoh : Araucaria sp. dan Agathis alba
Araucaria sp.:
Agathis alba:
  1. Familia Podocarpaceae
Ciri-ciri familia Podocarpaceae :
1) Terdapat di belahan bumi selatan.
2) Perdu atau pohon; daun tersusun spiral atau berseling, bentuk menyerupai sisik, serupa jarum sampai lancealatus.
3) Strobilus uniseksualis, dioecious, aksilaris
Strobilus jantan berbentuk conus dengan banyak mikrosporofil, dua mikrospangia pada tiap mikrosporofil. Strobilus betina hanya memiliki satu sampai beberapa ovuli yang soliter, sering dengan pembungkus sukulen epimatium (homolog dengan sisik pembawa ovuli) atau tertanam dalam arilus bentuk cawan (Phyllocladus).
4) Mikropil pada Podocarpus menghadap ke bawah.
Contoh : Podocarpus imbricatus, Podocarpus polystachyus
Podocarpus sp betina dan jantan
  1. Familia Pinaceae
Genus : Pinus
Ciri-ciri familia Pinaceae :
1)      Pohon berkayu, strobilus bentuk conus.
2)      Daun bentuk jarum & berkelompok atau serupa sisik, daun dan sisik tersusun spiral, sisik dan braktea lepas.
3)      Tiap sisik dengan dua (2) biji bersayap.
4)      Strobilus jantan dan betina dalam satu pohon; strobilus jantan lebih kecil dari pada strobilus betina (berkayu), terletak aksilaris.
5)      Penyerbukan & penyebaran biji dengan bantuan angin.
6)      Serbuk sari dengan dua gelembung udara.
7)      Cotyledon banyak.

Contoh : Pinus merkusii
Strobilus betina pada Pinus merkusii
Klasifikasi Pinus
Divisi : Coniferophyta
Kelas : Pinopsida
Bangsa : Pinales
Suku : Pinaceae
Marga : Pinus
Jenis : Pinus merkusii
  1. Familia Cupressaceae
Genus : Cupressus
Ciri-ciri familia Cupressaceae :
1)      Daun bentuk sisik dan tersusun berhadapan atau berseling, sisik dan braktea bersatu.
2)      Tiap braktea dengan sejumlah biji kecil tanpa sayap.
3)      Strobilus jantan dan betina dalam satu pohon, strobilus jantan berbentuk kerucut, strobilus betina berbentuk bulat, terletak aksilaris.
4)      Penyerbukan & penyebaran biji dengan bantuan hewan.
5)       Cotyledon banyak.

Contoh : Cupressus sp., Juniperus communis, Thuja gigantean
Cupressus sp.
Contoh tumbuhan Coniferales :
Agathis alba (damar), Pinus merkusii (pinus), Cupressus sp., Araucaria sp., Sequoia sp., Juniperus sp. dan Taxus sp.

Manfaat:
Tumbuhan dari ordo ini banyak dimanfaatkan oleh manusia. Misalnya, batang pinus digunakan untuk bahan industri kertas dan korek api. Sedangkan damar digunakan untuk minyak terpentin dan obat – obatan. Selain itu, cemara juga dapat digunakan sebagai tanaman hias.
4. Ordo Gnetales, Divisio Gnetophyta
Anggota kelompok ini berupa perdu, liana (tumbuhan pemanjat) dan pohon. Daun berbentuk oval/lonjong dan duduk daun berhadapan dengan bentuk urat daun menyirip. Pada xilem terdapat trakea dan floem tidak memiliki sel pengiring. Strobilus tidak berbentuk kerucut.
Ordo ini dicirikan dengan
  1. Batang pohon yang lurus kira-kira 20 meter dan bercabang.
  2. Akarnya tunggang.
  3. Tulang daun menyirip, tipis dan melebar.
  4. Berumah dua karena strobilus jantan dan betina terletak pada pohon yang berbeda.  Namun ada pula yang berumah satu, strobilus jantan dan betina terdapat dalam 1 pohon.
Strobilus uniseksual atau biseksual tidak sempurna, memanjang dan ber-buku-buku. Bunga jantan berkelompok aksilaris, berkarang, tiap bunga dengan brakteola bersatu. Bunga betina berkelompok aksilaris, berkarang, tiap bunga memiliki tiga (3) lapisan pelindung. Biji dilindungi perianth yang berdaging. Memiliki ovulum yang lebih tertutup, tetapi mikropilnya tetap terbuka.
  1. Liana berkayu, beberapa tegak.
  2. Percabangan bersendi dan menebal
  3. Daun sederhana, berhadapan, menyirip
Contoh yang terkenal dari kelompok ini adalah Gnetum gnemon (melinjo), yang daun dan bijinya dapat dimakan, sedangkan kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas, serat tali, dan perabot rumah tangga. Melinjo banyak digunakan oleh orang Indonesia untuk sayur – sayuran dan emping.
Klasifikasi ilmiah Gnetum gnemon (Melinjo)
Kerajaan : Plantae
Divisi : Gnetophyta
Kelas : Gnetopsida
Ordo : Gnetales
Famili : Gnetaceae
Genus : Gnetum
Spesies : Gnetum gnemon
Nama Inggris : Spanish joint fir
Nama Indonesia : Melinjo
Tanaman melinjo dapat tumbuh pada tanah-tanah liat/lempung, berpasir dan berkapur, tetapi tidak tahan terhadap tanah yang tergenang air atau yang berkadar asam tinggi dan dapat tumbuh dari ketinggian 0 – 1.200 m. Bijinya tidak terbungkus daging tetapi terbungkus kulit luar. Batangnya kokoh dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Daunnya tunggal berbentuk  ovalbunga dan buah sejati karena bukan termasuk tumbuhan berbunga. Yang dianggap sebagai buah sebenarnya adalah biji yang terbungkus oleh selapis aril yang berdaging.
Pohon berumah dua dan ada pula yang berumah satu yang selalu hijau dan berbatang lurus, tinggi dapat mencapai 5—10 m. Daun berhadapan, berbentuk jorong, urat daun sekunder saling bersambungan. Perbungaan majemuk soliter dan aksiler, melingkar di tiap nodus, panjang bunga 3—6 cm. Terdapat 5 – 8 bunga betina di tiap nodus, berbentuk bola. Buah seperti buah kacang, berbentuk jorong, bagian ujungnya runcing pendek, ketika masak warna buah berangsur-angsur akan berubah dari kuning, merah hingga keunguan. Satu biji dalam satu buah, buah besar dan kulit tengahnya keras berkayu.
Melinjo ditemukan di seluruh kawasan Asia Tenggara (meskipun merupakan tumbuhan asli dari Jawa dan Sumatra) dan tersebar hingga mencapai sebelah utara Assam dan sebelah timur Fiji. Melinjo tumbuh liar di hutan-hutan hujan pada ketinggian hingga 1200 m. Melinjo dapat ditemukan di daerah yang kering sampai tropis.  Untuk tumbuh dan berkembang, melinjo tidak memerlukan tanah yang bernutrisi tinggi atau iklim khusus.  Melinjo dapat beradaptasi dengan rentang suhu yang luas. Hal inilah yang menyebabkan melinjo sangat mudah untuk ditemukan di berbagai daerah kecuali daerah pantai karena tumbuhan ini tidak dapat tumbuh di daerah yang memiliki kadar garam yang tinggi. Di Indonesia tumbuhan melinjo tidak hanya dapat dijumpai di hutan danperkebunan saja. Di beberapa daerah tumbuhan melinjo ditumbuhkan di pekaranganrumah atau kebun rumah dan dimanfaatkan oleh penduduk secara langsung. Lahan yang akan ditanami melinjo harus terbuka atau terkena sinar matahari, lubang tanam berukuran 60 X 60 X 75 cm, dengan jarak tanam 6 – 8 m.
Tanaman melinjo dapat tumbuh mencapai 100 tahun lebih dan setiap panen raya mampu menghasilkan melinjo sebanyak 80 – 100 kg. Bila tidak dipangkas bisa mencapai ketinggian 25 m dari permukaan tanah. Tanaman melinjo dapat diperbanyak dengan cara generatif (biji) atau vegetatif (cangkokan, okulasi, penyambungan dan stek).
Manfaat Gnetum gnemon :
  1. Daun-daun muda, bunga dan buah (muda dan tua) biasa diolah menjadi sayur.
  2. Bagian paling penting dari Melinjo adalah biji. Biji Melinjo dapat dimakan kering, dimasak, atau diawetkan menjadi kerupuk (Emping). Emping merupakan panganan hasil industri rumah tangga dan berperan penting bagi perekonomian masyarakat di Jawa.
  3. Selain itu, pohon Melinjo yang memiliki perakaran kuat ini juga baik ditanam untuk pemulihan kembali areal kritis. Di Jawa Tengah, Melinjo ditanam untuk merehabilitasi lahan dan konservasi tanah di sepanjang Daerah Aliran Sungai Gobeh. Spesies ini telah direkomendasikan sebagai tanaman penghijauan.
  4. Kayunya dapat dipakai sebagai bahan papan dan alat rumah tangga sederhana.

Kandungan Nutrisi Gnetum gnemon:

Penelitian yang sudah dilakukan pada melinjo menujukkan bahwa melinjo menghasilkan senyawa antioksidan. Aktivitas antioksidan ini diperoleh dari konsentrasi protein tinggi, 9-10 persen dalam tiap biji melinjo. Protein utamanya berukuran 30 kilo Dalton yang amat efektif untuk menghabisi radikal bebas yang menjadi penyebab berbagai macam penyakit.
Di Jepang dilakukan penelitian dan dilaporkan bahwa melinjo termasuk tumbuhan purba yang secara evolusi  dekat dengan tanaman Ginko biloba Jepang. Ginkgo adalah spesies pohon hidup tertua, yang telah tumbuh selama 150-200 juta tahun dan dipercaya sebagai tonik otak karena memperkuat daya ingat. Daun Ginkgo juga punya khasiat antioksidan kuat dan berperan penting dalam oksidasi radikal bebas penyebab penuaan dini dan pikun.
Sampai saat ini, doktor biokimia dari Osaka Prefecture University, Jepang telah mengisolasi dua jenis protein yang menunjukkan aktivitas antioksidan tinggi. Dari seluruh bagian tumbuhan melinjo yang pernah diekstraknya, mulai dari  daun,kulit daun , akar, sampai biji, ditemukan protein paling potensial adalah dari biji. Riset menunjukkan aktivitas antioksidan dari kandungan fenolik ini setara dengan antioksidan sintetik BHT (Butylated Hydroxytolune).
Selain itu melinjo juga merupakan antimikroba alami. Itu artinya protein melinjo juga bisa dipakai sebagai pengawet alami makanan sekaligus obat baru untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Peptida yang diisolasi dari biji melinjo diindikasikan punya potensi aktif menghambat beberapa jenis bakteri gram positifdan negatif.
Banyak mitos yang mengatakan bahwa melinjo dapat menyebabkan kenaikan asam urat (Hiperurisemia) yang signifikan. Hal ini benar karena melinjo mengandung purin. Peningkatan asam urat terjadi karena gangguan metabolisme  purin dan asupan purin tinggi dari makanan secara berlebihan. Hiperurisemia terjadi karena gangguan pengeluaran asam urat oleh ginjal. Hiperurisemia dapat disebabkan oleh faktor genetik dan dapat diturunkan. Konsumsi makanan dengan purin tinggi, konsumsi gula dan lemak berlebihan dapat meningkatkan kadar asam urat. Kegemukan, pengguna obat diuretik, diet penurunan berat nadan, juga sering menyebabkan hiperurisemia. Namun, apabila tidak dikonsumsi secara berlebihan dan cara pengolahannya benar tidak akan menyebabkan asam urat.
Konsumsi berlebihan dan minyak goreng yang digunakan untuk menggoreng emping hasil olahan melinjo tersebut yang menyebabkan kadar asam uratnya meningkat. Jadi, bukan melinjo itu sendiri yang menyebabkan asam urat, karena apabila disiapkan dalam bentuk makanan lain tanpa minyak dan tidak dikonsumsi secara berlebihan tidak akan menyebabkan peningkatan asam urat.
Kandungan Senyawa:
Setiap 100 gram mengandung: Air 30 g, protein 11 g, lemak 1,7 g, karbohidrat 9,1 g, serat 6,8 g, phosphor 24 mg, calsium 151 mg, besi 2.5 mg dan vit A 10889 IU, Energi 310 kJ/100 g.
Anggota lainnya adalah Ephedra sp. dan Welwitschia sp. Genus Ephedra atau yang di kenal dengan nama ”Mormon tea” atau ”Ma Huang” mengandung zat ephedrin dan pseudo-ephedrin. Zat ini jika di minum dalam dosis rendah digunakan sebagai obat demam. Zat ini dapat pula mengemulsikan sistem syaraf pusat sehingga tidak jarang digunakan sebagai narkoba yang dikenal dengan herbal ectacy. Ephedra tumbuh di seluruh gurun di dunia.
Berbeda dengan Ephedra yang tumbuh di seluruh gurun dunia, Welwitschia hanya tumbuh di gurun Afrika. Pertumbuhan tumbuhan dengan daun berupa helai – helai yang besar dan panjang mirip gurita ini cukup lambat. Kebutuhan airnya sebagian besar dipenuhi melalui kabut.
Contoh : Gnetum gnemon
Strobilus Gnetum gnemon




G. MANFAAT GYMNOSPERMAE
Secara umum Gymnospermae bermanfaat bagi kehidupan manusia, di antaranya sebagai berikut :
  1. Tanaman hias, misalnya cemara dan pakis haji.
  2. Bahan industri, cat, dan obat – obatan, misalnya damar. Penghasil minyak cat (terpentin), misalnya pinus/tusam.
  3. Bahan pembuat kertas dan korek api, misalnya kayu pinus dan kayu tumbuhan melinjo
  4. Sayur – mayur, misalnya melinjo.
  5. Sumber makanan, misalnya melinjo.
  6. Bahan untuk obat dan kosmetik, yaitu Ginkgo biloba